Sabtu, 24 Mei 2003

Buku Terjemahan Sekadar Komoditas

"SAYA punya pengalaman buruk dengan buku terjemahan," demikian bunyi sebuah e-mail di satu milis-sebutan populer untuk mailing list-tentang buku. "Pusing rasanya ketika membaca Politics Among Nations karya Hans Morgenthau dalam bahasa Indonesia. Padahal, ada dua versi terjemahan buku itu karena diterbitkan dua penerbit yang berbeda. Akhirnya saya pinjam teman saja buku aslinya."

PENGALAMAN di atas tidak hanya milik satu atau dua orang belaka. Tidak sedikit pembaca yang pernah mengalami hal serupa: menemui kendala dalam membaca buku terjemahan. "Masalah paling serius dari buku terjemahan adalah kalau hasil terjemahannya tidak bisa dibaca!" tandas Sapardi Djoko Damono, penyair yang juga penerjemah buku. Kesulitan yang dijumpai bisa jadi tak sekadar dari segi bahasa semata, seperti jalinan kata yang rumit atau kalimat yang menjadi tak berarti dalam bahasa Indonesia.

Lebih jauh, isi buku tersebut lantas sulit dimengerti dan dipahami. Celakanya lagi, jika jeli membandingkan dengan teks aslinya, terkadang dijumpai ketidaksesuaian interpretasi bahkan penyelewengan konteks pada hasil terjemahan. Ditambah pula jika banyak terjadi kesalahan yang sifatnya teknis seperti salah ketik atau salah ejaan yang mengganggu kenikmatan membaca, semakin membuat orang frustrasi terhadap buku terjemahan.

Persoalan buku terjemahan menjadi penting dibicarakan saat ini sebab pilihan konsumen terhadap buku terbatas pada apa yang disuguhkan pasar. Padahal, pasar kini dibanjiri buku terjemahan. Meskipun setiap penerbit punya kebijakan menerbitkan karya penulis lokal, kebanyakan penerbit memberi porsi yang lebih besar pada terbitan karya terjemahan, berkisar antara 50-80 persen dari keseluruhan produksi. Alasannya beragam, mulai dari yang idealis bertujuan memberi sumbangan pada pembangunan peradaban manusia Indonesia, memberi wacana baru bagi masyarakat, memperkenalkan berbagai ilmu pengetahuan hingga latar belakang yang lebih realistis, yaitu jumlah karya lokal yang berkualitas masih minim. Kesulitan memperoleh karya lokal bermutu semakin terasa pada penerbit-penerbit kecil. "Jumlah penulis lokal yang berkualitas masih sangat sedikit," papar Anas Syahrul Alimi, Direktur Utama penerbit Jendela, Yogyakarta. "Itu pun mereka sudah diambil penerbit-penerbit besar."

Berdasarkan perhitungan bisnis, menerbitkan buku terjemahan memang lebih menguntungkan ketimbang meluncurkan karya lokal. Sebagai perbandingan untuk menjadi pemegang copyright buku asing, penerbit membayar royalti berkisar antara enam sampai tujuh persen. Sementara untuk penulis lokal penerbit harus membayar royalti sebesar sepuluh sampai 15 persen bahkan ada yang mencapai 20 persen. "Dari segi ini tentu lebih menguntungkan berjualan buku terjemahan," jelas Juan St Sumampouw dari Divisi Humaniora Penerbit Kanisius Yogyakarta.

Kesulitan yang dihadapi penerbit pemegang copyright biasanya karena harus membayar uang muka yang nilainya setara dengan penjualan 5.000 eksemplar. Padahal tiras cetakan pertama di Indonesia rata-rata hanya 2.000-3.000 eksemplar, itu pun terkadang baru habis terjual dalam dua tahun. Tapi kesulitan semacam ini tidak menjadi bagian yang harus dilalui penerbit-penerbit yang tidak menganggap penting urusan copyright sehingga keuntungan yang ditangguk bisa jadi lebih besar jumlahnya karena tidak harus membayar royalti copyright.

Motivasi bisnis

Peran penerbit dalam menentukan warna pasar buku tidak kecil. Jelas penerbit akan menjadi pihak pertama yang menuai pujian ataupun kritik dan protes atas keberadaan sebuah buku. Pun halnya dengan masalah buku terjemahan, tak dapat dihindari penerbit menjadi tertuding utama yang dipersoalkan atas kualitas suatu hasil terjemahan. Penerjemah baru dipermasalahkan berikutnya.

Namun, beberapa penerbit menganggap tudingan tersebut salah alamat. "Sesungguhnya penerjemahlah yang paling bertanggung jawab karena dia sudah menerima imbalan yang layak atas kerjanya itu," tandas Ahmad Baiquni, Manajer Redaksi Mizan, sebuah penerbit yang berbasis di Bandung. Padahal, bagi Rizadini, penerjemah yang kerap menerjemahkan karya-karya Gabriel Garcia Marquez, penulis asal Colombia pemenang Nobel Sastra 1982, tugas penerjemah berakhir ketika hasilnya diserahkan kepada penerbit. "Semua keputusan ada di tangan editor. Jika dia menilai sebuah hasil terjemahan tidak layak dibukukan, penerbit jangan memaksakan terbit dong!"

Manneke Budiman, dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI), beranggapan tak ada yang paling bersalah ataupun yang paling benar dalam persoalan buku terjemahan sebab baik penerjemah maupun penerbit keduanya berpartisipasi dalam proses produksi. Masing-masing pihak punya porsi tanggung jawab sendiri. Namun toh Manneke mengakui, kualitas terjemahan memang amat dipengaruhi oleh tujuan penerbitan buku itu sendiri. "Pola kebanyakan penerbit sekarang, terutama yang menerbitkan terjemahan fiksi, lebih pada tujuan komersial yang sangat besar."

Pendapat ini dibenarkan Aprinus Salam, pemerhati buku terjemahan dari Yogyakarta, yang mencermati setidaknya terdapat tiga kecenderungan motivasi penerjemahan. Pertama, motivasi akademis, artinya menerjemahkan dalam kaitan dengan kebutuhan pendidikan. Berikutnya, menerjemahkan buku berangkat dari motivasi pemberdayaan. Pilihan tema teks-teks yang diterjemahkan biasanya berkaitan dengan wacana pemberdayaan, seperti demokratisasi, hak asasi manusia, lingkungan, dan sejenisnya.

Sedangkan motivasi ketiga adalah menerjemahkan sebagai komoditas. "Mumpung ada pangsa pasar yang terbentuk karena kecenderungan baru atas pilihan bacaan dalam masyarakat, penerbit kemudian menerbitkan buku yang sesuai dengan animo itu secepat mungkin," ungkap Aprinus yang juga dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, "Akibatnya dari segi teknis banyak yang hasilnya minim karena proses produksi yang dipercepat."

Penghargaan profesi

Latar belakang motivasi menerjemahkan buku sebagai komoditas inilah yang dinilai Aprinus kental mewarnai produksi buku terjemahan belakangan ini. Apalagi salah satu ciri masyarakat postmodern yang kini melekat pada masyarakat Indonesia, yakni budaya konsumen, memberi dorongan besar terhadap tumbuh suburnya motivasi komoditas di kalangan penerbit, meskipun ada pula sementara penerbit yang tetap memegang idealisme menerbitkan buku yang bermutu.

Demi memenuhi tuntutan pasar, sebagian penerbit berlomba paling dahulu menerjemahkan dan menerbitkan sebuah buku baru. Beberapa penerbit bahkan mematok waktu tiga bulan untuk proses penerjemahan. Sedikit saja penerjemah yang punya kuasa menawar waktu deadline sebab kebanyakan di antara mereka lebih lemah posisinya dibandingkan penerbit. Akibatnya tak jarang kualitas isi dan hasil terjemahannya dipertanyakan.

Padahal, kerja penerjemah tidak sesederhana mengalihbahasakan saja, namun dituntut pula harus mampu memindahkan konteks dan nuansa dari teks asli ke dalam bahasa Indonesia. Waktu yang dibutuhkan untuk menerjemahkan suatu buku pun bervariasi, tergantung jenis buku, tingkat pemahaman, dan tingkat kesulitan bahasa aslinya. "Kalau novel seperti Jurrasic Park saya terjemahkan dalam waktu dua sampai tiga bulan," tutur Hendarto Setiadi yang pernah menerjemahkan karya Karl May, Dan Damai di Bumi dalam kurun waktu dua tahun.

Untuk karya sastra dan non-fiksi umumnya dibutuhkan waktu yang lebih lama. Perlu waktu ekstra untuk melakukan riset dan memperbandingkan buku yang akan diterjemahkan dengan wacana yang berkembang. Koesalah Soebagyo Toer, salah satu penerjemah senior yang pernah mengerjakan Musashi karya pengarang Jepang Eiji Yoshikawa menuturkan, "Saya pernah menerjemahkan buku tentang sejarah hampir setahun. Selain meriset kembali beberapa data yang ada dalam buku itu, bahasa aslinya juga sulit, jadi makan waktu lama." Sementara untuk teks-teks sastra Rusia, seperti karya Leo Tolstoy dan Nikolai Gogol, ia kerjakan dalam waktu yang lebih singkat.

Satu hal mendasar lain yang melatarbelakangi rendahnya kualitas sebagian buku terjemahan adalah masalah penghargaan terhadap penerjemah yang diwujudkan dalam bentuk honor. "Penerjemah masih dibayar murah, sementara deadline-nya terbatas. Mereka jadi cenderung mengejar deadline, mengejar omzet. Maka hasilnya pun tidak terlalu baik," komentar Aprinus. Ini semakin menunjukkan kekomersialan bisnis buku terjemahan.

Pada sebagian penerbit di Yogyakarta honor penerjemah berkisar antara Rp 7.500 hingga Rp 35.000 per lembar, tergantung tingkatan kemampuan penerjemah menurut subyektivitas penerbit yang bersangkutan. "Sebenarnya membiayai di atas Rp 10.000 per lembar itu sudah berat menurut logika bisnis buku," tutur Buldanul Khuri, Direktur penerbit Bentang Budaya dari Yogyakarta. "Kita bisa membayar hingga Rp 35.000 pun kalau buku terjemahannya mendapat funding."

Penerbit Obor yang cenderung memilih penerjemah ahli menghargai hasil terjemahan Rp 30.000-Rp 40.000 per halaman asli. Sedikit berbeda, Kelompok Populer Gramedia (KPG), seperti halnya Kanisius, menghitung kompensasi penerjemah berdasarkan karakter. "Per 2.000 karakter kami hargai Rp 10.000 hingga Rp 12.500. Itu sudah plus penilaian atas kualitas terjemahannya," terang Christina M Udiani, Manajer Redaksi dan Produksi KPG. "Tapi untuk buku terjemahan dari bahasa selain Inggris kami punya perhitungan berbeda. Seperti Karl May yang diterjemahkan langsung dari bahasa Jerman oleh Hendarto Setiadi kami hargai Rp 25.000 per 2.000 karakter." Sementara Kanisius mematok Rp 10.000-Rp 20.000 per 2.400 karakter atau disamakan dengan satu lembar kertas dengan font News Roman 10.

Meskipun proses kreatif penerjemah untuk menghasilkan suatu karya terjemahan menuntut kemampuan dan daya cipta tersendiri, namun penghargaan terhadap profesi ini masih sangat minim, baik dari segi nominal maupun dari sisi pengakuan publik. Penerjemah jarang sekali mendapat royalti dari buku yang diterjemahkan, tidak seperti penulis buku. Selama ini yang berlaku adalah sistem beli putus atas hasil terjemahan. Padahal, menurut Alfons Taryadi, Ketua I Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), karya terjemahan secara legal telah dilindungi Undang-Undang Hak Cipta dan berhak atas International Standard Book Number (ISBN). Artinya buku terjemahan yang bersangkutan sudah diakui sebagai karya tersendiri. (nur/umi/nca/bip/wen).